Tiap petang seusai salat magrib Agus Salim duduk di depan alat memintal. Mimpi yang pernah menghinggapinya sudah dikumpulkan dalam bejana. Biasanya tiap tiga sampai empat jam ia akan mulai memintal mimpi-mimpi tadi menjadi benang, biar kelak suatu saat bisa dijualnya atau dirajutnya untuk dijadikan hiasan dinding. Apabila semua mimpi dalam bejana sudah menjadi benang, akan ia simpan benang-benang tadi di dalam lemari. Apabila lemari-lemarinya sudah penuh dengan benang, maka ia akan mulai merajut benang-benang menjadi hiasan dinding. Apabila beberapa hiasan dinding sudah selesai dan ia merasa lelah merajut, maka sisa benang-benang tadi di jualnya demikian juga dengan hasil rajutannya. Begitulah rutinitas kehidupan Agus Salim, seumur hidupnya ia terus bermimpi, memintal mimpi jadi benang, merajutnya, lalu menjualnya. Tak pernah sekali pun terpikir olehnya untuk menjadikan mimpi-mimpi tadi jadi kenyataan.[]
Rasa penasaran adalah hal yang paling banyak dijumpai dalam novel-novel thriller , tidak terkecuali dalam novel yang ditulis oleh Ronny Mailindra ini. Spammer , demikian judulnya tercetak. Jujur aku bukanlah orang yang sangat mengerti tentang teknologi serta juga bukan pakar IT, dan itu bukan masalah meski novel ini berkisah tentang hal-hal demikian, tentang virus komputer, tentang hacker , tentang internet, dan lain-lain. Namun bagusnya saat membaca novel ini aku tidak dibuat bingung dengan istilah yang ada, tidak dibuat bertanya apa artinya ini itu tentang IT, semuanya jelas, lugas, dan tepat. Mungkin hal-hal seperti itulah yang memang seharusnya ada dalam novel thriller . Sejauh ini hanya novel Lelaki Harimau Eka Kurniawan yang bisa aku bilang sebagai thriller yang mendayu-dayu, cuman ini beda kasus dan tak bisa dibandingkan. Karena Spammer jelas lebih fokus pada genre suspense/thriller ala film Jason Bourne . Kuanggap kalian semua tahu dengan film Bourne (yang ini sedikit ma...
Waktu kecil aku diasuh oleh bik Yani, perempuan asal jawa yang merantau ke Kalimantan. Kata ibu, bik Yani bekerja di rumah sejak Bang Arif berusia 3 tahun. Karena ibu dan bapak jarang di rumah sibuk bekerja, sedangkan bang Arif kuliah di Bandung, maka hampir semua waktuku dihabiskan bersama bik Yani. Bik Yani mengasuhku dengan kasih sayang, memanjakanku seperti anaknya sendiri. Kata ibu dari bayi hingga akhirnya aku bisa berjalan, aku lebih suka digendong oleh bik Yani, tidur juga lebih suka bersamanya sebab seingatku ia sangat handal dalam mendongeng. Hingga aku kelas 6 SD ia masih menyuapiku makan, mendengarkan curhatanku apabila aku punya masalah. Di mataku, bik Yani sudah seperti ibuku sendiri. Ketika aku SMA, bik Yani berhenti bekerja di rumahku, ia kembali ke Jawa, dan setelah itu aku tak lagi pernah melihatnya. Tidak tahu alamat rumahnya dan juga nomor telepon yang bisa dihubungi. Memasuki akhir kuliah, tiba-tiba sebuah surat datang untukku, surat itu dari buk Yani, isiny...
Comments
Post a Comment