Bila ku betemu dengan urang luar kutai lalu sida encarang menyebut kata ‘butuh’ dalam hati aku pasti coba tahan ketawa. Sebab arti kata ‘butuh’ dalam bahasa kutai tu merujuk pada kelamin urang laki. Contoh kalimat yang pasti molah urang kutai ketawa hek karuan: “Aku sangat membutuhkanmu!” Jika dijadikan dialek kutai: “Aku ndak beneh mem—kelamin-urang-laki—kan ka’u!” Contoh lain lagi misalnya: “Apa kamu butuh gunting?” Jika dijadikan dialek kutai: “Apa ka’u kelamin-urang-laki gunting?” Kalimatnya jadi sadis. Mungkin sekian aja bilik meranyau malam ini, hek usah panjang-panjang penting bubuhan ka’u tu ngerti apa arti kata ‘butuh” dan saat apa di pakai bila lagi encarang dengan urang kutai. Salam membutuhkan!
Rasa penasaran adalah hal yang paling banyak dijumpai dalam novel-novel thriller , tidak terkecuali dalam novel yang ditulis oleh Ronny Mailindra ini. Spammer , demikian judulnya tercetak. Jujur aku bukanlah orang yang sangat mengerti tentang teknologi serta juga bukan pakar IT, dan itu bukan masalah meski novel ini berkisah tentang hal-hal demikian, tentang virus komputer, tentang hacker , tentang internet, dan lain-lain. Namun bagusnya saat membaca novel ini aku tidak dibuat bingung dengan istilah yang ada, tidak dibuat bertanya apa artinya ini itu tentang IT, semuanya jelas, lugas, dan tepat. Mungkin hal-hal seperti itulah yang memang seharusnya ada dalam novel thriller . Sejauh ini hanya novel Lelaki Harimau Eka Kurniawan yang bisa aku bilang sebagai thriller yang mendayu-dayu, cuman ini beda kasus dan tak bisa dibandingkan. Karena Spammer jelas lebih fokus pada genre suspense/thriller ala film Jason Bourne . Kuanggap kalian semua tahu dengan film Bourne (yang ini sedikit ma...
Tiap petang seusai salat magrib Agus Salim duduk di depan alat memintal. Mimpi yang pernah menghinggapinya sudah dikumpulkan dalam bejana. Biasanya tiap tiga sampai empat jam ia akan mulai memintal mimpi-mimpi tadi menjadi benang, biar kelak suatu saat bisa dijualnya atau dirajutnya untuk dijadikan hiasan dinding. Apabila semua mimpi dalam bejana sudah menjadi benang, akan ia simpan benang-benang tadi di dalam lemari. Apabila lemari-lemarinya sudah penuh dengan benang, maka ia akan mulai merajut benang-benang menjadi hiasan dinding. Apabila beberapa hiasan dinding sudah selesai dan ia merasa lelah merajut, maka sisa benang-benang tadi di jualnya demikian juga dengan hasil rajutannya. Begitulah rutinitas kehidupan Agus Salim, seumur hidupnya ia terus bermimpi, memintal mimpi jadi benang, merajutnya, lalu menjualnya. Tak pernah sekali pun terpikir olehnya untuk menjadikan mimpi-mimpi tadi jadi kenyataan.[]
Comments
Post a Comment