Posts

Showing posts with the label cerpen

Hidup Memang Aneh

Image
Aku duduk disebelahnya lalu dengan santai ia berucap, “Aku membunuh Bapakku.” Aku coba mencerna kata-katanya. Lalu kami saling pandang, membiarkan angin melewati kami agar sejuknya bisa menyentuh sampai ke hati kami yang mulai menggersang. ~ Sungguh melelahkan jika harus bolak balik Samarinda Balikpapan berulang-ulang, menyetir demi seorang adik yang sudah hampir 6 tahun tidak pernah kujumpai. Tapi biar puluhan tahun pun tidak berjumpa tetap saja saudara adalah saudara. Setelah kupikir-pikir dengan jernih, mungkin saja apa yang aku lakukan ini merupakan penebusanku selama 6 tahun karena sudah tidak menjadi kakak yang baik untuknya. Fajar belum berlalu ketika kami sekeluarga berangkat ke Balikpapan, semua barang sudah dimasukkan ke dalam mobil, adikku yang ingin menikah besok terlihat jadi sering merenung. Aku agak segan menanyakan keadaannya, aku takut ia malah tersinggung, tapi aku tahu ia pastilah sangat gugup. Sesampai di Balikpapan ketika barang-barang diperiksa ke...

Orang Paling Berdosa

Waktu kecil aku diasuh oleh bik Yani, perempuan asal jawa yang merantau ke Kalimantan. Kata ibu, bik Yani bekerja di rumah sejak Bang Arif berusia 3 tahun. Karena ibu dan bapak jarang di rumah sibuk bekerja, sedangkan bang Arif kuliah di Bandung, maka hampir semua waktuku dihabiskan bersama bik Yani. Bik Yani mengasuhku dengan kasih sayang, memanjakanku seperti anaknya sendiri. Kata ibu dari bayi hingga akhirnya aku bisa berjalan, aku lebih suka digendong oleh bik Yani, tidur juga lebih suka bersamanya sebab seingatku ia sangat handal dalam mendongeng. Hingga aku kelas 6 SD ia masih menyuapiku makan, mendengarkan curhatanku apabila aku punya masalah. Di mataku, bik Yani sudah seperti ibuku sendiri. Ketika aku SMA, bik Yani berhenti bekerja di rumahku, ia kembali ke Jawa, dan setelah itu aku tak lagi pernah melihatnya. Tidak tahu alamat rumahnya dan juga nomor telepon yang bisa dihubungi. Memasuki akhir kuliah, tiba-tiba sebuah surat datang untukku, surat itu dari buk Yani, isiny...

Lelaki Kehausan & Perempuan Menyusui

Abdulah yang dituduh mencuri sebiji kurma milik Raja, melarikan diri dari kota. Semua orang tahu bahwa Raja sangatlah kejam, kekejamannya itu sangat terkenal di jagat raya. Raja pernah menghukum mati pamannya sendiri hanya karena pamannya mendapatkan sebuah hadiah—berupa buku 1001 malam—dari kerajaan lain, pamannya itu dianggap berhianat. Abdulah lari kepadang gurun gersang, disebuah tempat yang tak pernah dilewati oleh pengembara mana pun. Ia hanya berbekal beberapa potong roti dan dua kantong air. Abdulah bergerak mengikuti arah matahari tenggelam, sebab kota asalnya berada di arah matahari terbit, oleh karena itu ia hanya bisa melanjutkan pelariannya di siang hari yang terik. Lebih seminggu ia berjalan, tapi belum juga menemukan sebuah kota yang katanya berada di arah matahari tenggelam. Bekalnya makin menipis, hingga akhirnya habis. Ia tak pernah tahu seberapa jauh lagi harus berjalan, perutnya yang lapar hanya mampu dibelit dengan kain, kehausan tak bisa ditawari, mungkin tak...

Kata Orang Samat bin Suaif Ahli Neraka

Semasa hidup Samat bin Suaif terkenal dengan kekikirannya, ia tak pernah menyumbang untuk pakir miskin dan anak yatim padahal ia adalah seorang yang kaya raya. Meski pun demikian ia tak pernah terlewat salat lima waktu di masjid, bahkan sering juga ia melakukan salat sunat dan tak pernah absen puasa senin kamis. Tapi semua ibadahnya itu tak bisa menghindarkannya dari pergunjingan warga kampung, ada yang bilang salat yang dilakukannya hanyalah upaya supaya iya terlihat ahli agama, sedangkan puasa senin kamis yang dilakukannya tidak lebih dari upayanya berhemat sebab ia orang yang kikir. Kekikiran Samat bin Suaif ini tidak hanya berlaku pada orang lain. Pada anak-anaknya pun ia sama pelitnya, sangat jarang ia membelikan anaknya baju baru, terkadang sampai dua kali hari raya barulah anaknnya bisa punya baju baru. Tidak hanya itu, masa sekolah anak-anaknya tak pernah diberi uang jajan, maka anaknya sangat sering menjajakan jualan mbok Mirah di sekolah biar bisa jajan seperti anak lainnya....

Agus Salim Memintal Mimpi

Tiap petang seusai salat magrib Agus Salim duduk di depan alat memintal. Mimpi yang pernah menghinggapinya sudah dikumpulkan dalam bejana. Biasanya tiap tiga sampai empat jam ia akan mulai memintal mimpi-mimpi tadi menjadi benang, biar kelak suatu saat bisa dijualnya atau dirajutnya untuk dijadikan hiasan dinding. Apabila semua mimpi dalam bejana sudah menjadi benang, akan ia simpan benang-benang tadi di dalam lemari. Apabila lemari-lemarinya sudah penuh dengan benang, maka ia akan mulai merajut benang-benang menjadi hiasan dinding. Apabila beberapa hiasan dinding sudah selesai dan ia merasa lelah merajut, maka sisa benang-benang tadi di jualnya demikian juga dengan hasil rajutannya. Begitulah rutinitas kehidupan Agus Salim, seumur hidupnya ia terus bermimpi, memintal mimpi jadi benang, merajutnya, lalu menjualnya. Tak pernah sekali pun terpikir olehnya untuk menjadikan mimpi-mimpi tadi jadi kenyataan.[]

Menunggu Tamu Penting

Image
Sekitar 25 menit lagi pukul 10 malam, seperti janji yang sudah dibuat, tamu penting itu akan datang. Aku duduk di sofa menunggu dengan sabar. Tiba-tiba pintu diketuk, aku melirik ke arah jam dinding masih sekitar 20 menit lagi sebelum pukul 10 malam.  Mungkin ia datang lebih awal!. Pikirku yang langsung menuju pintu utama dan membukanya sembari memperlihatkan senyum. Namun ternyata yang berdiri di depan pintu bukan tamu penting yang kutunggu, melainkan tetangga sebelah rumahku. Dia seorang perempuan. Sejak tinggal di komplek perumahan itu, tetanggaku itu sering kali merepotkan, dia sering meminta tolong berbagai hal, mulai dari membantunya mengganti lampu yang tidak mau menyala, memperbaiki genteng bocor, sampai menyedot toiletnya yang tersumbat. Aku orangnya tidak enakan apabila menolak orang yang meminta tolong, walau kadang dengan berat hati jika masih bisa aku lakukan akan tetap aku lakukan. Mungkin begitulah seharusnya hidup bertetangga. Tetanggaku datang membawa ku...

Pespektif

Image
Putus cinta bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah awal baru untuk merasakan perihnya sakit hati, dan trauma untuk memulai cinta lagi. Ini adalah hari kedua aku ditinggal pergi, kekasih yang aku cintai selama lima tahun itu ternyata berselingkuh dan memutuskan untuk menikah dengan orang lain. Aku tidak menyalahkannya, karena pilihannya patut aku hargai, sebab aku tidak bisa memberikan kepastian padanya, padahal para perempuan butuh kepastian. Aku tidak menangisinya, sebab aku laki-laki. Merasakan sakit hati, hal itu sudah pasti dan tak bisa aku pungkiri. Saat semua ini terjadi orang-orang disekitar berubah jadi perduli, banyak yang menyemangati, dan bilang Yunita akan menyesal suatu saat nanti. Lalu satu per satu dari mereka mulai mencarikanku kekasih pengganti. Sebenarnya aku lelah dengan itu semua, aku butuh sendiri, tapi di dunia ini ada banyak hal yang tidak bisa dihindari, salah satunya adalah orang-orang yang pernah berlaku baik pada kita, menolak mereka sama saja ...

Milos, Z, & Kawanan Beru

Image
1. Rasi bintang orion terlihat jelas di langit malam itu, demikian juga dengan suara deru gelombang yang menyeret perahu ke tepi pantai gelap. Milos berbaring di dalam perahu kayu tadi, menumpu kepalanya dengan kedua tangan kurus terlindung oleh lengan baju panjang yang dikenakannya. Itu adalah baju kesukaannya, Kos lengan panjang berwarna merah hati dengan gambar kucing oren loreng macam harimau. Saat ujung perahu menyentuh pantai, Milos bangkit. Sepoy angin menjamah dirinya bagai ucapan selamat datang. Sekitar remang-remang, rembulan purnama menggantung di puncak langit, cahayanya yang menimpa air laut, tenggelam mencipta semburat berkilauan mirip permata. Ia turun dari perahu, meloncat ke atas pasir putih yang menyambut kaki telanjang tanpa alas kaki, kemudian dengan sedikit keraguan, ditariknya perahu tadi hingga separuh lambung perahu terangkat ke atas pasir. Ia sendiri tak percaya dengan kemampuannya menarik perahu, sebab perahu itu terlalu besar untuk tubuhnya yang kur...