Agus Salim Memintal Mimpi
Tiap petang seusai salat magrib Agus Salim duduk di depan alat memintal. Mimpi yang pernah menghinggapinya sudah dikumpulkan dalam bejana. Biasanya tiap tiga sampai empat jam ia akan mulai memintal mimpi-mimpi tadi menjadi benang, biar kelak suatu saat bisa dijualnya atau dirajutnya untuk dijadikan hiasan dinding. Apabila semua mimpi dalam bejana sudah menjadi benang, akan ia simpan benang-benang tadi di dalam lemari. Apabila lemari-lemarinya sudah penuh dengan benang, maka ia akan mulai merajut benang-benang menjadi hiasan dinding. Apabila beberapa hiasan dinding sudah selesai dan ia merasa lelah merajut, maka sisa benang-benang tadi di jualnya demikian juga dengan hasil rajutannya. Begitulah rutinitas kehidupan Agus Salim, seumur hidupnya ia terus bermimpi, memintal mimpi jadi benang, merajutnya, lalu menjualnya. Tak pernah sekali pun terpikir olehnya untuk menjadikan mimpi-mimpi tadi jadi kenyataan.[]





Comments
Post a Comment